Karenanya tidak mengherankan apabila akhir-akhir ini ditemukan berbagai perilaku yang aneh-aneh dan nyeleneh yang dianggap sebagai gejala patologis bagi kehidupan modern33.
Disadari atau tidak, fenomena modern semacam itu telah merasuki kejiwaan umat Islam. Mereka seringkali merasakan kegelisahan dan kekhawatiran yang mendalam, tanpa diketahui sumbernya dari mana perasaan menggoda pikiran (obsessional neurosis) itu muncul. Bahkan dengan sengaja, mereka mencoba memahami perasaannya melalui bantuan Paranormal, psikiater, konselor atau melalui cara-cara baru yang diyakini keampuhannya, namun hal itu tidak membawa hasil yang cukup signifikan. Hal itu setidak-tidaknya disebabkan oleh : Pertama, mereka telah melupakan resep-resep agama yang mengatur perilaku psikologis, sehingga mereka tidak mengetahui bagaimana seharusnya yang diperbuat; dan kedua, mereka mencoba memahami psikopatologi dalam dirinya melalui teori-teori modern, namun dalam teori-teori modern itu tidak mampu menembus wilayah kejiwaan yang paling dalam dan misteri seperti wilayah spiritual dan keagamaan, sehingga mereka tidak menemukan apa yang dicari.
Studi tentang psikopatologi paling tidak dapat bertolak dari tiga asumsi, yang masing-masing asumsi memiliki implikasi psikologis yang berbeda-beda. Pertama, pada dasarnya jiwa manusia itu dilahirkan dalam keadaan sakit, kecuali dalam kondisi tertentu ia dinyatakan sehat; kedua, pada dasarnya jiwa manusia itu dilahirkan dalam keadaan netral (tidak sakit dan tidak sehat). Sakit dan sehatnya tergantung pada proses perkembangan hidupnya; ketiga, pada dasarnya jiwa manusia itu dilahirkan dalam keadaan sehat, kecuali dalam kondisi tertentu ia dinyatakan sakit.
Asumsi pertama dikembangkan aliran Psiko-analisa Sigmund Freud. Menurut Freud, jiwa manusia dilahirkan dalam kondisi jahat, buruk, bersifat negatif atau merusak. Agar ia berkembang dengan positif, diperlukan cara-cara pendamping yang bersifat impersonal dan direktif atau mengarahkan. Kesimpulan demikian itu didasarkan atas penyelidikan Freud terhadap beberapa pasien yang datang ke laboratoriumnya. Dari sini tampak bahwa teori Psiko-analisa Freud sebenarnya hanya cocok untuk orang yang sakit dan bukan dikonsumsikan untuk orang yang sehat. Asumsi ini selain bersifat pesimistik juga menafikan eksistensi manusia sebenarnya, sehingga pada gilirannya mengakibatkan dehumanisasi dalam psikologi.
Sedangkan asumsi kedua dikembangkan aliran Psiko-behavioristik radikal B.F Skinner. Menurutnya, jiwa manusia dilahirkan dalam kondisi netral, seperti tabula rasa (kertas putih), hanya lingkungan yang menentukan arah perkembangan jiwa tersebut. Lingkungan yang baik akan membentuk suasana psikologis yang baik dan harmonis, sebaliknya lingkungan yang buruk akan berimplikasi pada gejala psikologis yang buruk pula. Asumsi ini selain bersifat deterministik dan mekanistik, juga memperlakukan manusia seperti makhluk yang tidak memiliki jiwa yang unik. Jiwa manusia dianggap seperti jiwa hewan yang tidak memiliki kecenderungan apa-apa dan dapat diatur seperti mesin atau robot.
Sementara asumsi ketiga dikembangkan aliran Psiko-humanistik Abraham Maslow dan Carl Rogers. Menurutnya, jiwa manusia dilahirkan dalam kondisi sadar, bebas, bertanggung jawab yang dibimbing oleh dayadaya positif yang berasal dari dalam dirinya sendiri ke arah pemekaran seluruh potensi manusiawi secara penuh. Agar berkembang ke arah positif, manusia tidak memerlukan pengarahan melainkan membutuhkan suasana dan pendamping personal serba penuh penerimaan penghargaan demi mekarnya potensi positif yang melekat dalam dirinya.
Sumber: http://bs-ba.facebook.com